
Sebagai bagian dari tim IT di BMI Peduli, layar monitor sehari-hari mempertemukan saya dengan ribuan data dan angka. Namun, di balik barisan data tersebut, ada kisah-kisah nyata yang menggetarkan hati. Salah satunya adalah sosok Kyla, seorang guru TPA muda yang mendedikasikan harinya untuk mengajar anak-anak. Setiap sore, suasana kelas TPA selalu hidup oleh gema riang lantunan bait Iqro dan kosakata Bahasa Arab yang diajarkan Kyla. Dengan kelembutan, ketelatenan, dan senyum yang tak pernah pudar, ia menuntun jemari mungil anak-anak mengenali huruf demi huruf Al-Qur’an. Bagi masyarakat sekitar, Kyla bukan sekadar pengajar, melainkan pilar kebaikan yang menghadirkan suasana belajar hangat, ramah, dan penuh kesabaran bagi generasi penerus di lingkungan Kelurahan Gaga.
Ketulusan yang dipancarkan Kyla hari ini memiliki akar perjuangan yang sangat mendalam. Jauh sebelum ia berdiri di depan kelas sebagai seorang pendidik, Kyla adalah seorang anak binaan yatim di BMI Peduli sejak duduk di bangku kelas 2 SD hingga lulus SMP. Kehilangan figur orang tua tidak memadamkan semangat hidupnya. Didikan serta dukungan dari para dermawan memotivasinya untuk melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren di area Kelurahan Gaga. Selepas menuntaskan masa menimba ilmu agama di pesantren, Kyla membuat keputusan yang sangat menyentuh hati: ia memilih kembali ke tempat yang pernah merawatnya untuk mengabdi sebagai guru TPA. Perjalanan hidup Kyla adalah bukti nyata bagaimana sebuah benih kebaikan yang ditanam belasan tahun lalu kini telah tumbuh menjadi pohon rindang yang menaungi anak-anak lain.

Di balik keceriaan yang selalu ia bagikan kepada santri-santrinya, Kyla menyimpan sebuah cita-cita mulia yang terus membakar semangatnya: ia sangat ingin melanjutkan pendidikan ke bangku universitas. Kyla menyadari sepenuhnya bahwa untuk memberikan dampak yang lebih luas serta meningkatkan mutu pengajaran bagi anak-anak TPA, ia membutuhkan wawasan dan ilmu yang lebih tinggi di perguruan tinggi. Namun, keterbatasan ekonomi masih menjadi benteng tebal yang menghalangi langkahnya. Sungguh sebuah ironi ketika seorang anak yatim yang telah berhasil bangkit dan kini menerangi kehidupan orang lain harus menunda mimpinya sendiri. Kyla adalah potret nyata kegigihan anak bangsa yang tidak pernah menyerah pada keadaan, sosok pengabdi yang kelayakannya untuk mengecap pendidikan tinggi sudah tidak perlu diragukan lagi.
Kisah Kyla mengajarkan kita satu hal berharga: bahwa kebaikan yang kita investasikan untuk pendidikan seorang anak yatim tidak akan pernah berhenti, melainkan terus berlipat ganda menjadi manfaat bagi masyarakat luas. Kini, giliran kita untuk hadir menjaga nyala asa tersebut agar tidak padam. Sebagai bentuk ikhtiar dan wujud kepedulian bersama, kami mengajak Sahabat Dermawan sekalian untuk merapatkan barisan dalam aksi nyata. Mari kita ikuti kegiatan doa bersama anak-anak yatim BMI Peduli sekaligus menyalurkan donasi terbaik melalui kampanye Kitabisa ini. Dukungan dan uluran tangan Sahabat hari ini adalah jembatan bagi Kyla untuk melangkah ke gerbang perguruan tinggi, sekaligus investasi masa depan bagi ratusan anak TPA yang menantikan bimbingannya.

One Comment
Semangat ka kayla